Ke-unyu-an Antar Generasi
Ngomongin tentang ke-unyu-an antar generasi, saya jadi ingat percakapan saat saya tengah berkunjung ke rumah mertua saya. Keponakan saya hanya akan tenang jika smartphone ada di genggaman tangannya. Maka, terjadilah keributan kecil itu..
Mertua : Ini anak main HP terus, kata Pak Ustadz jangan kasi anak main HP. Gak boleh!
Abinya : Mana ada gak boleh, Ustadz siapa yang ngomong kayak gitu?
Mertua : Itu, mamak denger Ustadz ngomong di radio tadi!
Hee~
***
Saya menulis ini saat melihat salah satu feeds instagram yang saya ambil di pombensin. Isinya adalah gambar daun pisang yang kontras sekali perubahan warnanya. Hijau, kuning, sampai ia cokelat. lalu, saya beri judul "lintas generasi".
Di tempat saya bekerja, obrolan tentang lintas generasi ini sering sekali digaungkan. Hampir pada setiap obrolan saya dengan kepala sekolah, juga saat kami guru-guru sedang briefing pagi atau rapat internal, juga pertemuan orang tua murid, dan tentu kami diberikan seminar kilat tentang mengajar di era generasi yang sekarang ini sungguh sangat melek teknologi.
Saya, sebagai guru yang baru mengajar di sekolah formal tentu saja suka seminar model begini. Selain menambah ilmu, saya suka mendengar segala hal yang disampaikan memang langsung dari sumbernya.
Dari seminar itu saya juga jadi mengingat kembali tentang beberapa generasi seperti generasi X, Y, Z (kalau mau tau lebih lanjut, bisa cari di google). Nah, kalau ngomongin tentang generasi, tentulah saya ada di generasi melek teknologi (mwehehe~). Generasi Millenial.
Saya punya keponakan, yang sering sekali saya masukkan di story instagram saya. Namanya Ichi dan Sulthan. Mereka adalah dua dari sekian banyak anak yang lahir setelah tahun 2010. Kita sebut saja mereka generasi Alfa. Apa itu generasi Alpha? Sile di google saja jeung~
Mengembalikan mereka (generasi alpha) seperti zaman saya kecil dulu, dimana teknologi yang hits saat itu adalah telepon genggam merk nokia bukan seperti saat ini, saya rasa adalah sebuah usaha yang walaupun bukan sia-sia tapi pasti butuh perjalanannya tersendiri.
Mengapa? Entahlah, saya ambil contoh saja dua keponakan saya tadi, juga murid sewaktu saya mengajar di sekolah dasar dulu. Mereka tidak lagi membicarakan
"nanti aku main ke rumah ko ya, aku ada ikan laga!"
"eh, aku dibeliin bapak aku tamiya! ko mau liat?"
"ini stiker digimon kalau bukunya udah penuh, kita bisa tuker dapet hadiah loh woy!"
tapi ...
"eh, aku bikin youtube baru, subscribe ya guys!"
"ko liat reza arap? dia keren kali wak! anj*"
" folbek yaa~"
Dan kita bisa tidak heran jika ada balita mampu mengoperasikan laptop, bukan lagi sekedar smartphone. Mencari film yang mereka mau di local disk D, menutup film tersebut jika dirasa membosankan. Duh, saya baru mengoperasikan komputer saat duduk di bangku sekolah menengah. huhu~
Mungkin di sekolah, kita bisa membatasi anak untuk tidak membawa smartphone. Tapi, lain cerita kalau di rumah. Kita ambil contoh untuk anak yang kedua orang tuanya bekerja, lalu ia di urus dengan tante atau nenek yang suka sekali nonton siaran di televisi. Nah loh~
Televisi sekarang, sering kali menyajikan tontonan yang luar biasa di luar logika. Walapun tidak semua stasiun televisi seperti itu (Net.tv misalnya, namun kan tidak semua orang juga punya TV kabel), tapi hampir sebagian besarnya demikian. Menurut pandangan subjektif saya, tentu saja sajian aneh seperti ini tidak baik untuk kesehatan mental.
***
Mengutip apa yang pernah Ali Bin Abi Thalib ucapkan (duhh~ Beliau ini betul betul~) "Didiklah anak-anakmu sesuai pada zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu". Tentu bisa kita jadikan salah satu patokan.
Kita tidak bisa melulu menyalahkan televisi atau smartphone, karena yah pada dasarnya anak ngikut aja apa yang orang tua dan lingkungan sekitarnya berikan ke dia. Tentulah kita sebagai orang yang kebetulan lebih dulu lahir dan mengecap asam garam dunia, berusahalah jadi contoh yang baik. yah.. walaupun baik itu sebenarnya maknanya luas ya jeung~
Maka dari itu, saya selalu salut dengan aktivis anak-anak yang membumikan lagi permainan-permainan unyu ke masa anak-anak generasi saat ini. kalian da best
Comments
Post a Comment