Ada Luka Yang Tak Berdarah
Ada bagian dalam diri saya yang entah mengapa kecewa. Hal itu terjadi, saat saya tengah membaca sebuah postingan di instagram milik bapak Ridwan Kamil. Isinya adalah screenshoot berita seorang guru yang dikeluarkan via whatshap dari sekolahnya. Yang saya tangkap dari berita itu adalah betapa tertutupnya hati dan pikiran oknum yang berkuasa di yayasan pendidikan itu. Padahal jelas, Indonesia adalah Negara demokrasi. Memilih adalah hak. Lalu kenapa dibatasi?. Eh tapi yang menjadi pertanyaan, bukankah sekolah adalah tempat yang bebas dari unsur politik-politik seperti itu ya ? kok bisa?.
***
Kemarin siang adalah pertama kalinya saya menonton sebuah film aktivis yang berjudul Gie. Film yang berisi catatan harian seorang demonstran yang mengkritik kepemimpinan soekarno. Bapak yang dulu berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Dari film yang berdurasi hampir dua jam itu, ada beberapa hal yang baru aku ketahui.
Pertama, Soekarno yang mau menjadi presiden seumur hidup di Indonesia. Sesuatu yang menggelitik kalau dikomparasikan ke zaman sekarang. Jangankan seumur hidup, belum pun setahun kalau tidak ada perubahan yang nampak di media, maka kepemimpinan orang tersebut bisa dipertanyakan.
Kedua, betapa sakitnya jadi masyarakat kelas bawah yang kurang kritis dalam memilih ataupun bergabung dengan suatu partai. Seperti yang dicontohkan dalam film tersebut sahabat kecil Gie yang masuk partai kiri akhirnya harus ditiadakan. Yang bahkan sahabatnya tersebut tidak tau salahnya apa. Ia hanya ingin hidup lebih layak seperti yang partainya janjikan. Tapi, janji tinggal janji.
Ketiga, saya setuju dengan pendapat Gie “Saya mimpi tentang sebuah dunia dimana ulama, buruh, dan pemuda bangkit dan berkata, “stop semua kemunafikan ! Stop semua pembunuhan atas nama apapun.. dan para politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkatan gandum, susu, dan beras buat anak-anak yang lapar di 3 benua, dan lupa akan diplomasi.Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun..dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.” sumber : goodreads, dari buku Catatan Harian Seorang Demonstran
Mengingat ia dalam tulisannya yang di filmkan itu, pernah diajak untuk masuk kedalam sebuah organisasi keagamaan. Lantaran ia hanya mempertanyakan untuk apa? Ia lalu dianggap tidak lagi sejalan. Dianggap beda kubu. Boleh dimusuhi.
***
Kembali ke postingan Bapak Ridwan Kamil, saya mempercayai betul bahwa Islam adalah agama Rahmatan lil Alamiin. Saya begitu mengagumi Rasulullah SAW, walaupun akhlak saya masih jauh sekali di bawah standar baik. Tapi, tentulah saya yang biasa ini boleh kecewa. Dimana sumber kekecewaan saya adalah Oknum yang … memecat seorang yang notabene muslimah untuk tidak lagi menjadi guru SDIT, lantaran ia berani untuk memilih pemimpin yang padahal juga seorang muslim namun tidak sesuai "instruksi" sekolah tersebut. Luka, tapi tak berdarah. Sakit.
Comments
Post a Comment