Indonesia Tanpa Pacaran Dan Absurditas di Dalamnya
Karena kebanyakan tidur siang ini (entah karena cacingan atau memang saya kurang olah raga), jadilah saya bergadang malam ini. Ini pun masih dalam keadaan kenyang sehabis makan indomie soto medan yang saya seduh saja pakai air panas. Syedep tapi dosa. Uwh~
Saya baru saja selesai membaca artikel di tirto.id tentang perilaku-perilaku seksis sampai pada akhirnya saya menemukan artikel yang cukup menarik perhatian saya, yaitu artikel yang (menurut saya) mengkritik Indonesia Tanpa Pacaran.
Saya cukup kaget dengan sajian berita bahwa untuk mengikuti aksi tersebut kita perlu membayar uang sebesar 180 ribu rupiah (dari sumber juga disebutkan bahwa ikut ITP ada yang gratis juga), tentunya bukan biaya yang sedikit. Ada juga berita mengenai seseorang (dalam artikel tersebut) yang merupakan artis medsos yang digemari lantaran aksinya menikah muda, namun sayang di umur pernikahannya yang ketiga bulan mereka malah harus berpisah.
***
Tentu saja, saya tidak akan mengkritik aksi Indonesia Tanpa Pacaran dalam konteks udahlah ndak usah pacar-pacaran. Ya karena memang pada dasarnya saya setuju bahwa kita tak boleh mendekati zina. Namun, yang menarik adalah ITP ini ujung-ujungnya malah ngajakin yaudah nikah muda aja. NAH, ini jadi hal yang ingin sekali saya garis bawahi. Tidak pacaran lalu dengan provokatif ngajakin menikah muda adalah suatu hal yang ...
Tidak pacaran dan nikah muda, benar adalah jalan untuk menghindari zina dan memang direstui oleh Allah, tapi sungguh menikah muda itu lain cerita. Tentu saja saya sangat kagum sekali dengan ikhwan wa akhwat yang memilih jalan jomlo fii sabilillah, jomlo sampai halal, dan tentu agak muyeng dengan dedek gemes yang becandaannya soal nikah melulu padahal kalau beneran disuguhi ikwan/akhwat yang siap, malah ngabur~. Duuh dek, pen tak ciyum keningmu.
Saat memilih untuk tidak pacaran maka kita hanya berurusan dengan diri kita sendiri. Namun, saat kita memilih untuk menikah muda tentulah banyak hal yang perlu dipersiapkan. Seperti kemantapan hati, kesiapan untuk menafkahi atau dinafkahi, belajar mendekati orang lain yang nantinya akan menjadi orang tua kita, dan masih banyak lagi, karena sejatinya menikah itu bukan sekedar diri sendiri namun juga orang lain. Banyak orang lain. Oleh karena itu, sudahilah becandaanmu yang lawas itu. 2019 aja pada banyak yang pengen ganti presiden, masa kamu ndak mau ganti becandaan. Uwh~
Maka sungguh tidak bijak jika ada seseorang yang memilih tidak pacaran, karena memang dia belum siap untuk berkomitmen atau ada hal lain yang sedang ia perjuangkan. Alih-alih mendukung malah mencekoki dengan kalimat yang sarkas seperti “Memang sampean ndak mau nikah apa?”. Waduh, ayolhaaaa orang normal mana yang engga mau nikah.
Nah, ngomongin tentang perilaku menikah muda yang menjamur (Alhamdulillah untuk mereka yang Allah mudahkan jodohnya, dengan cara dan waktu yang tepat). Tentulah beda, zamannya ibuk kita dengan zaman kita sekarang. Kita balik lagi ya ngomongin generasi. Nah, di generasi X atau zaman nenek atau ibu kita, mungkin setelah mereka mulai menstruasi maka rencana pernikahan udah mulai di omongin.
Kita ambil contoh umur 17 tahun. Diumur segitu, (dari cerita ibuku) anak-anaknya udah pada tau kerjaan rumah. Untuk perempuan udah pada ngerti ngurusin rumah, masak, dan gak perlu disuruh-suruh. Sedangkan di zaman sekarang, itu masih SMA. menurut Komnas perlindungan anak, itu masih dibawah umur. Labil (walaupun engga semua, tapi kebanyakannya loh ya), masih mencari jati diri.
Maka sungguh tidak tepat jika di umur segitu, remaja-remaja ini dicekoki dengan motivasi untuk segera menikah. Ya tentu saja mereka mudah terprovokasi, toh masih mencari jati diri. Bukan maksud saya ngga setuju, tapi.. emhhh~ ayolaah.. kan ga lucuw mereka di umur yang produktif nan aktif itu harus melakukan pawai yang tujuannya malah ngajakin nikah muda bukan fokus ke Indonesia Tanpa Pacaran itu sendiri
Tentulah yang ingin saya tekankan, seruan-seruan mengajak menikah muda diimbangi juga dengan seruan-seruan mengajak umat agar lebih produktif, agar lebih menghargai orang tua, tingkatkan silaturahim untuk merapatkan barisan shaf (mengingat kita mudah sekali terpecah belah Yaa Allah). Jadi, generasi muda yang lagi produktif tidak melulu mikirin soal menikah. Jadikan umat produktif agar mereka matang pada waktu yang tepat.
Comments
Post a Comment