Tentang Rumah


Memasuki liburan sekolah dibulan febuari, cuaca benar-benar baik untuk mencuci pakaian. Matahari benar-benar semangat bekerja, sementara saya semangat pula goler-goler dikamar sembari menonton drama korea yang menurut saya bagus untuk di tonton. Tapi, saya tak hendak membahas drama tersebut, hari ini saya mau curhat. Tentang keinginan saya, keinginan suami, keinginan orang tua saya, dan mertua saya. Yaitu tentang rumah.

Diawal pernikahan kami, saya dan suami sepakat untuk membeli rumah dan mengontrak hanya setahun pernikahan kami. Jadilah, kami membeli rumah yang sedang dalam tahap pengerjaan. Kami diajak ke lokasi calon rumah yang hendak kami tinggali. Hanya ada tanah. Oleh marketing, kami diminta berimajinasi, bahwa nanti letak rumah tersebut ada di tempat itu. 

Awalnya, semua berjalan baik-baik saja. Saya rajin bekerja, walaupun lelah uang adalah sesuatu yang sangat hendak saya miliki. Saat itu, suami saya bekerja dengan penghasilan kecil yang dibayar secara cicil. Cukup untuk makan kami berdua saat itu. Saya pun masih sempat ikut arisan. Namun, tingginya keinginan kami berdua untuk jajan, malah membuat kami berhutang. 

Memang, terlihat dari permukaan kami bisa mencicil rumah, membayar arisan, dan jajan diluar. Nyatanya kami masih belum mampu mengelola keuangan diawal pernikahan kami. Tak jarang saya dan suami merasa tidak dalam kondisi yang nyaman. 

Akhirnya, Allah kirimkan teguran berupa artikel yang memuat tentang bahaya Riba. Hal ini membuat saya berkali bertanya pada suami. Apakah kita perlu melanjutkan membeli rumah tersebut. Karena seringnya saya gelisah dan takut, maka kami putuskan untuk menyelesaikan hubungan pembayaran DP perumahan tersebut. Padahal jika dihitung-hitung uang yang masuk sudah hampir 15 juta. Sayang memang. 

Akhirnya kami mengatakan keputusan yang sudah kami buat ke orang tua saya. Dan tak bisa dipungkiri mereka kecewa. Rumah akan terus menerus naik harganya, jika saya dan suami berfikir untuk menabung dari awal akan lama, kalau memang rumah itu riba kenapa masih ada ustadz yang beli rumah kpr di bank, entah apa yang kami baca sampai kami harus memutuskan hal tersebut. Itu yang disampaikan orang tua saya. 

Memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan membeli rumah itu memang bukan keputusan yang mudah. Saya juga tipe anak yang takut dengan kekecewaan orang tua. Saya tidak takut dimarahi, karena saya mungkin masih keras hati untuk membantah. Namun, saya tak mampu melihat sorot mata kekecewaan orang lain, apalagi orang tua. Pada akhirnya, bapak menerima keputusan kami. Walaupun tidak dengan mama. 

***

Teman – teman, apa yang lebih berat dari memutuskan sebuah perkara?. 

Menjalaninya dan istiqamah. Itu yang belum saya miliki. Maka, ditahun kedua kami. Ketika semua sudah tampak lancar-lancar saja. Kembali, saya yang membujuk suami untuk membeli rumah. Harganya memang tak semahal calon rumah pertama kami. Ada penolakan dari suami di awal. Namun, pada akhirnya beliau menurut juga. 

Jadilah, untuk kali kedua kami mencicil DP untuk calon rumah kami. Lagi. Kembali saya katakan bahwa kami mengambil rumah, rumahnya masih dalam tahap pengerjaan, akan selesai di bulan sekian, bla bla bla. 

“yang kali ini beneran jadi kan kak?” itu ucap mama. 

“ya” jawab saya. 

Maka, saat kali sekian saya berkunjung ke rumah orang tua saya. Ada lumayan banyak kayu, bebatuan, pasir. Untuk rumah baru saya nanti, kata mereka. 

Tapi, kembali saya kecewakan mereka dengan keputusan saya lagi. Sebelum memutuskan berhenti, saya ucapkan janji saya pada suami. Bahwa apapun bujuk rayu saya nantinya untuk kembali membeli rumah dengan cara KPR atau bertautan dengan riba, jangan pernah turuti. Sekalipun saya bersikap seperti anak-anak. 

Kami lepas lagi keinginan itu... 

***

Teman, sungguh. Istiqamah itu beratnya minta ampun. Menahan keinginan saat kita tau kita bisa memiliki hal itu, tapi terhalang dengan perintah yang punya langit, bumi, alam semesta beserta isinya. MaShaa Allah berat. 

Saya tidak tau, sampai dimana titik saya mampu bertahan. Saya menulis ini untuk mengingatkan kepada diri sendiri, bahwa pernah ada saya, yang memutuskan untuk memilih taat. Semoga bisa menjadi pengingat untuk diri saya sendiri. suatu hari nanti, ketika hati yang mudah terbolak-balik ini kembali memilih untuk menjadi salah.

Comments

Popular Posts