Bertetangga
Menyadari bahwa tulisan ini mungkin bisa dianggap kontra dengan tulisan yang ditulis di status yang berjudul "Pintu rumahnya koq tutupan terus sii..." dan ditanggapi oleh beberapa pembaca yang merasa senasib. jujur dari dari pandangan penulis, penulis memang ingin menjaga marwahnya sebagai muslimah dan ya, memang sangat harus di dukung. Namun jujur aja juga, tulisan ini bisa membuat orang yang luar biasa males bergaul dengan sekitar menjadi punya alasan untuk, yah! ini alasannya. ya yang sebenarnya mah, aslinya males aja mau ketemu orang-orang (dan itu hak personal ya). Saya hanya merasa, takut ada pergeseran maksud. karena dari komentar-komentarnya, hampir rata-rata malah mbahasin tentang konteks "tetangga". Engga kok, saya bukan mau kontra tapi, izinkan saya menulis dari sudut pandang saya.
Dulu, di kontrakan pertama saya. waktu yang saya habiskan di tempat kerja lebih banyak dibanding yang saya habiskan di rumah. saya ingat sekali saat pergi pagi hari dan pulang sore hari. sampai di rumah yang bersisa hanya capeknya saja. sehingga, ketika punya waktu libur di rumah saya manfaatkan untuk beristirahat full di rumah dengan pintu tertutup. ketemu tetangga mungkin hanya saat lebaran idul fitri atau idul adha. begitulah kira-kira ekstremenya sosialisasi saya dan tetangga. di cap sombong? saya yang mengecap diri sendiri, karena memang sudah ditahap engga disenyumin sama salah satu ibu-ibu di samping kiri depan rumah saya. hahaha.
perumahan kontrakan saya pertama kali, memang sering melakukan acara-acara gitu. saya? ya engga ikutan lah. masih lebih seneng di rumah aja sambilan nonton tv atau scrolling media sosial. hem. jadi kalau saya mau jahat gitu ya, saya bisa aja sih ambil alasan tulisan ibu tadi, untuk mendukung kegiatan unfaedah saya di rumah. hehe. tapi engga kok. saya gak gitu.
saya menyadari, bahwa ga enak tinggal di lingkungan yang bertetangga tapi kurang adem. jadi, itu menjadi salah satu dari sekian alasan saya untuk pindah kontarakan. di kontrakan yang kedua, kami tak bertahan lama. kurang nyaman dengan kondisi rumahnya.
saat itu, saya berdoa sama Allah untuk dipilihkan rumah kontrakan terakhir (capek mau pindah-pindah hehe) yang lingkungannya bisa membuat saya bisa lebih dekat dengan Allah, yang tetangganya bisa membuat saya juga bisa lebih dekat dengan Allah, yang tinggal di dalam rumahnya, bisa membuat saya bisa merasa aman dan bersyukur. dan saya juga berjanji ke diri sendiri untuk bisa memperbaiki hubungan saya dan tetangga. doa itu, saya ulang-ulangi. terus-menerus.
saya, termasuk orang yang sangat percaya. bahwa tetangga adalah salah satu rezeki yang Allah kasi untuk kita. saya ingat pesan bapak, "Walaupun bapak di sini kak (kota yang sama maksudnya) tapi tetap, orang-orang yang dekat dengan kakak itu tetangga. yang bantuin kakak kalau kakak kenapa-kenapa itu tetangga. jadi jaga hubungan baik dengan tetangga. tegur-tegur tanya kabar. jangan berkurung diri di rumah aja". gitu. saya bukan ahli hadist, tapi saya ingat pernah ada yang bilang ke saya bahwa kita harus juga menyambung tali silaturahmi, salah satunya dengan tetangga.
Alhamdulillah, Allah Maha Baik. saat ini, walaupun saya masih lebih senang menghabiskan waktu istirahat dengan nontonin tiktok (ampuuuun... ampuuun... haha enggalah, bikin materi kok buat anak-anak), tapi pelan-pelan saya juga belajar untuk bisa berbaur dengan ibu-ibu di sekitar tempat saya tinggal sekarang. haha, kadang kalau dipikir-pikir lucu. berbaur pun harus belajar juga. tapi gapapa, efeknya ya saya jadi sering diajakin pergi ke kajian kalau ada syekh terkenal gitu dateng ke mesjid, diajakin pergi ikut senam pagi bareng ibu-ibu PKK (yah yang ini saya tolak sih, hehe), di ajakin ngobrol tipis-tipis angin lalu tentang fikih (kebetulan banget ya, ibu depan rumah guru ngaji), atau dipanggil waktu saya didalem rumah main game among us cuma buat dikasi jambu walaupun cuma satu buah hasil panen dari pohon cangkokan. hehe
Jadi sebenernya substansi tulisan ini apa?
engga tau ya. haha. cuma waktu ngebaca tulisan ini, semacam jadi pembelaan dari pribadiku yang memang lebih suka di rumah aja, tidur-tiduran karena memang belum punya momongan ya. gatau deh nanti kalau udah punya, mungkin tulisan ini bakal beda lagi. :( yang aku yakin, cuma aku doang kok yang kayak gitu. yang lain engga kok....
Comments
Post a Comment